Breaking News

Tingkatkan Konektivitas Antar Pulau, Pemerintahan Jokowi Telah Membangun 15 Bandara Baru


Pembangunan infrastruktur terutama di bidang perhubungan khususnya pembangunan bandar udara pada era pemerintahan Jokowi-JK adalah untuk mewujudkan pemerataan pembanguan dan ekonomi yang berkeadilan.
Sektor transportasi mempunyai peran yang strategis sehingga harus dapat menjalin konektivitas antarpulau dan mampu mewujudkan aksesibilitas ke seluruh wilayah tanah air Indonesia.
Hingga akhir tahun 2019 mendatang Pemerintahan Jokowi-JK telah berhasil membangun 15 bandara baru dan melakukan rehabilitasi di daerah pedalaman dan terpencil.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, dalam rangka memacu potensi dan berkembangannya simpul-simpul ekonomi, meningkatkan aksesibilitas daerah-daerah tujuan wisata, distribusi produk dan jasa,
Kelima belas bandar udara baru yang dibangun oleh Kemenhub terdiri dari, Bandar Udara Tambelan-Tambelan, Bandar Udara Letung-Anambas, Bandar Udara Tebelian-Sintang, Bandar Udara Muara Teweh-Barito Utara, Bandar Udara Samarinda Baru-Samarinda, Bandar Udara Maratua-Berau, Bandar Udara Miangas-Kep. Talaud.
Kemudian Bandar Udara Siau-Kep. Siau. Bandar Udara Kertajati-Majalengka, Bandar Udara Buntu Kunik-Tanah Toraja, Bandar Udara Morowali-Morowali, Bandar Udara Namniwel-Buru, Bandar Udara Kabir/Pantar-Alor, Bandar Udara Werur-Tambrauw, dan Bandar Udara Koroway Batu-Boven Digoel.
Menhub menjelaskan, Bandar Udara Miangas yang terletak di Kepulauan Talaud merupakan bandar udara yang telah diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo beberapa waktu lalu. Pembangunan bandar udara itu adalah perwujudan dari program Nawacita untuk membangun Indonesia dari pinggiran.
“Beberapa teman di Miangas mengatakan dengan adanya bandara di Miangas itu membuat mereka bersemangat berkehidupan, berekonomi, dan produktivitas meningkat. Saya pikir inilah bentuk keberhasilan pembangunan yang dilakukan Pemerintah di wilayah-wilayah pinggiran,” ucap Menhub.
Selanjutnya pemerintah melalui Kementerian Perhubungan berencana membangun 10 bandara baru yang tersebar di wilayah Indonesia.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, rencana tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan anggaran.
Bandara tersebut akan dibangun di wilayah Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Labuan Bajo, Tjilik Riwut, Bangka Belitung, Sibolga, dan Nias. Kemungkinan bandara di Tjilik Riwut akan selesai tahun ini.
Upaya Kemenhub membangun bandar udara di daerah-daerah terpencil dan menyediakan pelayanan angkutan udara perintis sebagai jawaban atas kondisi geografis Indonesia yang memiliki bentangan yang tersebar dan sangat luas, dan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut berhak mendapatkan layanan transportasi yang terjangkau dan memadai, yang disediakan oleh pemerintah.
Adapun rincian Bandar Udara yang telah dibangun di masa pemerintahan era Jokowi adalah sebagai berikut :
1. Bandara Letung, Anambas
Bandar Udara Letung terletak di Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
Tujuan pembangunan Bandara Letung adalah sebagai penanda kehadiran negara di daerah perbatasan , juga untuk mengembangkan perekonomian daerah melalui pengembangan sektor pariwisata. Kepulauan Anambas memiliki pantai-pantai cantik yang menjadi spot diving sehingga dapat menarik wisatawan asing maupun domestik.
2. Bandara Namniwel, Buru
Bandar Udara Namniwel terletak di Namlea, Kabupaten Buru, Maluku.
Bandara Namniwel memiliki runway berukuran 1600 m x 30 m serta taxiway berukuran 185 m x 23 m, dan apron seluas 9,170m2.
Bandar udara Namniwel berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Bandara Namniwel juga memiliki peran utama sebagai pintu gerbang kegiatan perekonomian, tempat kegiatan alih moda transportasi, penanganan bencana, dan prasarana memperkukuh wawasan nusantara dan kedaulatan negara.
3. Bandara Morowali, Sulawesi Selatan
Pembangunan Bandar Udara Morowali dimulai sejak 2007 lalu dengan APBD, namun prosesnya sangat pelan. Kemudian 3 tahun terakhir pembangunannya dikebut dan saat ini sudah dioperasionalkan untuk transportasi dari Kabupaten Morowali menuju kota-kota besar sekitarnya.
Bandara Morowali memiliki runway berukuran 1.050 m x 30 m, taxiway 192 m x 18 m, dan apron berukuran 80 m x 70 m. Untuk area runway diperpanjang menjadi 1.500 m, sehingga dapat melayani penerbangan pesawat yang lebih besar.
Bandar udara Morowali memiliki peran utama sebagai pintu gerbang kegiatan ekonomi, tempat kegiatan alih moda transportasi.
4. Bandara Miangas, Sulawesi Utara
Bandar Udara Miangas berlokasi di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Bandara Miangas dilengkapi dengan runway berukuran 1400 m x 30 m, taxiway berukuran 100 m x 18 m, dan apron berukuran 130 m x 70 m.
Pembangunan Bandara Miangas bertujuan untuk mengatasi keterisolasian Pulau Miangas yang terletak paling utara di Indonesia. Bandara Miangas mulai dibangun pada 2012 dengan sumber dana sebesar Rp. 205 M dari APBN. Pemerintah berencana untuk memperpanjang runway memperpanjang runway.
Satu hal yang istimewa dari Bandara Miangas yaitu letaknya di sebuah pulau yang berbatasan langsung dengan pantai sehingga menyajikan pemandangan yang indah.
5. Bandara Maratua, Kalimantan Timur
Bandar Udara Maratua merupakan salah satu bandara baru di Indonesia yang terletak di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pembangunan Bandara Maratua bertujuan untuk mempermudah wisatawan menuju ke destinasi wisata bertaraf international yaitu Pulau Derawan. Pembangunan Bandara Maratua telah selesai pada 2017 dan sudah melayani operasional beberapa maskapai sejak akhir 2017.
Bandara Maratua memiliki runway berukuran 1.600 m x 30 m, taxiway berukuran 75 m x 18 m, dan apron berukuran 100 m x 70 m.
6. Bandara Werur, Papua Barat
Bandar Udara Werur dulunya merupakan pangkalan udara tua yang didirikan saat Perang Dunia II dan sudah tidak digunakan lagi hingga 2012. Kemudian pemerintah daerah setempat berinisiatif untuk membangun kembali pangkalan udara yang terbengkalai tersebut menjadi sebuah bandar udara yang cantik dan megah.
Dengan kehadiran Bandara Werur, distribusi logistik maupun transportasi masyarakat menjadi lebih cepat dan lancar. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian, budaya dan pariwisata di wilayah Papua Barat.
7. Bandara Koroway Batu, Papua
Bandara Koroway Batu terletak di Boven Digoel, Papua. Pembangunan Bandara Koroway Batu bertujuan untuk meningkatkan perekonomian daerah serta memajukan pariwisata di wilayah setempat.
Bandara Koroway Batu memiliki runway berukuran 800 m x 18 m. Karenanya hanya dapat didarati pesawat kargo kecil.
Namun runway tersebut akan diperluas menjadi 1.600 m x 30 m agar dapat melayani penerbangan pesawat yang lebih besar.
8. Bandara Kertajati, Majalengka
Pembangunan bandara baru di Indonesia yang selanjutnya adalah Bandara Kertajati atau Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).
Bandar udara Kertajati dibangun di lahan seluas 1.800 hektare dan memiliki runway berukuran 2.500 m x60 m. Karenanya Bandara Kertajati menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta.
Pembangunan Bandara Kertajati bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Bandara Kertajati ini terintegrasi dengan pelabuhan patimban, jalan tol Cipali, dan jalur kereta api sehingga dapat mempermudah pelayanan fasilitas untuk investor.
9. Bandara Tebelian, Kalimantan Barat
Pembangunan Bandara Tebelian bertujuan untuk menggantikan fungsi Bandara Susilo yang sudah tidak dapat dikembangkan lagi. Bandara Susilo memiliki landasan pacu berukuran 1300 m x 30 m, sedangkan Bandara Tebelian memiliki landasan pacu yang lebih panjang yaitu 1.660 m x 30 m. Dengan demikian Bandara Tebelian dapat melayani penerbangan pesawat yang lebih besar.
Dengan adanya Bandara Tebelian diharapkan perekonomian daerah Sintang dan sekitarnya akan meningkat. Selain itu adanya Bandara Tebelian juga untuk mendukung pertahanan dan keamanan negara karena terletak di perbatasan, serta dapat membuka keterisolasian masyarakat setempat.
10. Bandara Samarinda Baru, Kalimantan Timur
Bandara Udara Samarinda Baru atau Bandar Udara APT Pranoto dibangun untuk menggantikan operasional Bandara Temindung yang sudah tidak dapat dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan. Keberadaan Bandara APT Pranoto akan mengembangkan pariwisata Kalimantan Timur dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Bandara APT Pranoto memiliki landasan pacu berukuran 2.250 m x 45 m, sehingga dapat melayani penerbangan jarak dekat maupun jarak jauh.
11. Bandara Pantar, Alor
Bandar Udara Pantar terletak di Kepulauan Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembangunan bandara di wilayah timur ini bertujuan untuk mewujudkan konektivitas dan aksesibilitas antarwilayah. Akses transportasi yang mudah dapat meningkatkan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya Bandara Pantar wisatawan juga akan dimudahkan untuk mengunjungi destinasi wisata di Kepulauan Alor yang terkenal dengan keindahannya.
12. Bandara Muara Teweh, Barito Utara
Bandar udara Muara Teweh terletak di Kalimantan Tengah. Bandara Muara Teweh memiliki panjang landasan pacu 900 m, kemudian diperpanjang menjadi 2050 m.
13. Bandara Siau
Bandar Udara Siau terletak di di Kepulauan Sitaro (Siau Tagulandang Biaro).
Pembangunan Bandara Siau bertujuan untuk pertahanan/keamanan dan distribusi logistik. Untuk mencapai Pulau Siau dapat menggunakan kapal cepat dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam dari Manado. Dengan adanya Bandara Siau waktu tempuh tersebut tentu akan lebih dipersingkat.
14. Bandara Tambelan
Bandar Udara Tambelan merupakan salah satu bandara baru di Indonesia yang terletak di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Bandara ini memiliki landasan pacu berukuran panjang 1.200 m dan lebar 30 m.
Pembangunan Bandara Tambelan dimulai pada 2014 dengan menggunakan dana APBN. Dana yang dibutuhkan yaitu Rp. 17,8 M untuk tahap awal pembukaan lahan 300 m dan Rp 74 M pada tahap kedua untuk membuka lahan 1.200 m.
Dalam pembangunan bandara ini mengalami kendala kondisi cuaca yang tidak menentu dan bahan baku yang harus didatangkan dari luar Tambelan. Dengan adanya Bandara Tambelan akan mempermudah akses transportasi masyarakat maupun logistik.
15. Bandara Buntu Kunik, Toraja
Bandara baru di Indonesia yang terakhir yaitu Bandara Kunik di Toraja. Pembangunan Bandara Buntu Kunik sempat mangkrak selama dua tahun. Kemudian pada 2018 pembangunan bandara dilanjutkan dengan dana sebesar 60 miliar yang berasal dari APBN. Pembangunan Bandara Kunik mengalami kendala faktor alam karena lokasi sekitar berupa gunung dan sungai. Sehingga pembangunan landasan pacu harus menyesuaikan kondisi tersebut.
Sumber  :https://radarkontra.com/tingkatkan-konektivitas-antar-pulau-pemerintahan-jokowi-telah-membangun-15-bandara-baru/

No comments:

Powered by Blogger.