Breaking News

Waspada Provokasi Eramuslim, Korban Bencana Sulteng Meninggal karena Asma Bukan Kelaparan

Indonesia Hebat – Pendistribusian bantuan logistik ke Palu dan Donggala mengalami sejumlah kendala, seperti terbatasnya akses komunikasi dan padamnya aliran listrik. Bahkan akses alat berat masih terbatas hal ini dikarenakan kondisi jalan yang rusak, baik amblas ataupun longsor sehingga beberapa lokasi masih belum tersentuh bantuan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan kendala pengiriman bantuan logistik ke korban terdampak gempa di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pengiriman bantuan terhambat dikarenakan akses jalur darat sulit dijangkau.
Sampai hari ini Pemerintah telah mengupayakan penyaluran logistik kepada para korban dengan mengerahkan seluruh unsur baik dari Pemerintah Pusat, Pemda setempat, relawan dan Ormas akan tetapi dampak gempa dan tsunami yang parah memutus akses menuju lokasi.
Sutopo menuturkan seluruh potensi nasional saat ini sedang bergerak menyalurkan bantuan untuk para korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.
“Bantuan dari pemerintah baik dari pemda-pemda, NGO, ormas termasuk dari masyarakat pasti bantuan terus mengalir untuk Palu dan Donggala,” ujarnya.
Meski demikian, upaya Pemerintah ini selalu saja dipolitisir demi kepentingan kelompok yang berseberangan dengan Pemerintah. Mereka sepertinya tidak senang melihat langkah Pemerintah yang begitu responsif dalam menangani dampak becana.
Terkait berita di yang muat media online Eramuslim.com tentang seorang warga, korban dampak gempa dan tsunami di Desa Malei, Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang dikabarkan meninggal dunia, dijadikan senjata untuk menyerang Pemerintah. Pasalnya media tersebut memberitakan tanpa tau jelas apa yang menjadi penyebab kematiannya. Namun dengan cepatnya Eramuslim.com langsung mengabarkan kalau korban meninggal akibat kelaparan karena tidak mendapat bantuan.
Berdasarkan informasi tersebut, Kapolres Donggala AKBP Stans Laus Ferdinand Suwarji membantah ada warganya yang meninggal akibat kelaparan pasca gempa 7,4 SR disertai tsunami. Adapun penyebab kematian warga yang bernama Adhar, 65, itu akibat terserang penyakit asma.
“Informasi dari masyarakat bahwa almarhum meninggal karena sakit asma dengan mag. Informasi tersebut dari anak almarhum, Abdul Rahman,” kata Ferdinand kepada, Senin (8/10).
Kebenaran itu didapatkan setelah Kapolsek Balaesang Iptu Umar bersama Kanit Reskrim Bripka Harsadi serta Anggota Intelkam Sektor Balaesang Brigpol Nursyahid mengecek langsung kabar kematian warga tersebut ke Desa Malei, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sabtu (6/10).
Setibanya di sana, mereka bertemu dengan Ketua PPK Balaesang Tanjung, Sukiman dan langsung menuju ke rumah almarhum Adhar di Dusun IV. Pihak kepolisian pun bertemu dengan keluarganya.
Anak korban, Abdul Rahman kemudian menjelaskan, dirinya lantas mendapatkan informasi bahwa ayahnya meninggal dunia, dua hari setelah gempa. Adapun yang menyampaikan informasi tersebut adalah sesorang tetangga bernama Arsad. Dikatakan bahwa Adhar meninggal dunia karena asma.
Sebelumnya diberitakan seorang warga, korban dampak gempa dan tsunami di Desa Malei, Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) dikabarkan meninggal dunia akibat kelaparan.
Hal itu diketahui dari salah seorang warga bernama Harjo (38). Harjo sendiri adalah korban, asal Desa Malei, tentangga desa korban yang disebutkan meninggal karena kelaparan.
Saat itu Harjo menceritakan bagaimana kondisi memperihatikan ribuan warga korban bencana di tujuh desa di kecamatan Balaisang Tanjung, Donggala, yang tak tersentuh bantuan logistik, berimbas dengan meninggalnya satu orang korban.
Sebelum diketahui meninggal dunia, sambungnya, warga tersebut sempat turun ke kampung untuk mencari makanan. Tetapi sebagian warga di kampung yang mempunyai kios penjual beras juga turut mengungsi. Sehingga tidak sempat membeli beras.
“Saya kurang tahu usia tepatnya itu berapa tapi yang jelas dia itu laki-laki baru sudah lanjut usia. Diperkirakan mati kepalaran karena paginya, dia turun ke kampung cari makanan. Jadi sorenya begitu langsung meninggal diperkirakan mati kelaparan,” Harjo bercerita saat ditemui di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Sabtu (6/10
Untuk itu diharapakan agar masyarakat jangan mudah terhasut dengan artikel Eramuslim terkait warga korban gempa Donggala meninggal karena tidak tersentuh bantuan. Tulisan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan yang ada di lokasi.
Media eramuslim.com adalah media provokator, pembuat kegaduhan dan media propaganda pesanan oposisi yang hanya mengangkat pemberitaan negatif tentang Pemerintah namun cenderung membela kubu oposisi. Eramuslim sendiri memiliki kepentingan memecah belah antara masyarakat dengan Pemerintah untuk kepentingan pihak-pihak di balik eramuslim.com.
Sumber : https://bidikdata.com/waspada-provokasi-eramuslim-korban-bencana-sulteng-meninggal-karena-asma-bukan-kelaparan.html

No comments:

Powered by Blogger.